Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juli 2016

Vaksin Palsu?

Issue tentang vaksin palsu, kencang banget akhir-akhir ini. Saya yang sedang punya bayi dan lagi rajin-rajinnya imunisasi bayi saya, ikut deg-deg an dong pastinya, bismillah aja deh.

Sampai saat ini, Reika sudah melalui vaksin di 3 tempat, yaitu:
1. Puskesmas Rawabuntu
    Saat itu sedang Pekan Imunisasi Nasional, dan Reika ikut vaksin polio di Puskesmas
2. Vaxi
    Saat jadwalnya tiba, vaksin DPT dengan merk Pediacel sedang susah dicari. Berburu ke beberapa rumah sakit pun hasilnya nihil. Sampai akhirnya saya bertemu dengan Vaxi. Cerita nya sudah saya sharing di sini
3. RS St. Carolus Gading Serpong
   Jenis dan jadwal vaksin sesuai arahan Jadwal Vaksin IDAI. Hanya vaksin Pediacel yang tidak dilakukan melalui Rumah Sakit ini

Dan Alhamdulillah, ketiga tempat tersebut tidak ada di list yang sudah dipublish pemerintah sebagai Rumah Sakit atau lembaga vaksin yang telah menjual vaksin palsu.

Awal Juli kemarin, adalah jadwal vaksin Pediacel yang ke-2, dan tetap saya lakukan melalui Vaxi karena ketersediaan Pediacel di Rumah Sakit masih belum pasti. Kalau sebelumnya dilakukan di kantor karena Tangsel tidak masuk di area jangkauan mereka, kali ini mereka menginformasikan bahwa mereka bisa melakukan vaksinasi di rumah kami, asiikk..

Reika melalui vaksin dengan cukup ceria, di bawah ini perubahan ekspresinya ;-)
Sadar kamera, sambil menunggu mbak dokter siap-siap, kita foto dulu..
Menanti dengan penuh senyuman..
Seolah berkata dalam hati "mmmm, aku mau diapain nih?"
Suntik mulai dilakukan, wajah mulai kelihatan tidak nyaman..
Puncak ketidaknyamanan, nahan sakit sambil mengerang, hehe..
Dihibur dan disayang-sayang, ceria kembali deh, tidak sampai nangis..

Kata mbak dokternya, "wah, ga keluar darah di bekas suntikan nih, lemaknya tebal", dan kamipun ngakak bersama, hahaha..

Setelah vaksin selesai, sambil menunggu apakah ada reaksi alergi dr vaksin, maka saya berdiskusi dengan dokter mengenai issue vaksin palsu.

Ada beberapa pengetahuan baru yang saya dapatkan dari sesi diskusi tentang vaksin tersebut:
  1. Bahwa mungkin saja ada perubahan kemasan untuk merk vaksin yang sama. Bukan berarti jika kemasan dulu berbeda dengan kemasan yang sekarang, berarti palsu. Sehingga orang tua tidak perlu panik dulu, kita tunggu saja pengumuman dari pemerintah
  2. Bahwa istilah imunisasi wajib dan wajib itu tidak ada, semua imunisasi harusnya wajib. Istilah yang benar adalah imunisasi dasar. Imunisasi dasar inilah yang disubsidi oleh pemerintah dan bisa didapatkan di puskesmas
  3. Karena tidak semua vaksin disubsidi oleh pemerintah, dan kemudian disalurkan melalui Puskesmas, maka untuk melengkapi vaksin yang diterima oleh anak kita, harus melalui Rumah Sakit atau lembaga vaksinasi yang tidak disubsidi oleh pemerintah. Contoh vaksin yang tidak disediakan di Puskesmas adalah Rotavirus
  4. Di Rumah Sakit atau lembaga vaksin, 1 ampul vaksin hanya digunakan oleh 1 anak, karena penggunaannya jarang. Sisa vaksin akan dibuang. Sedangkan jika di Puskesmas, 1 ampul dapat digunakan oleh beberapa orang anak, karena permintaannya lebih banyak. Hal ini saya alami sendiri saat Reika mendapatkan imunisasi polio di Puskesmas
  5. Vaksin DPT, dengan merk Pentabio (yang disediakan di Puskesmas) dan Pediacel (yang bisa didapatkan di Rumah Sakit atau lembaga vaksin), perbedaannya terletak pada kandungan vaksin di dalamnya. Pentabio berisi 3 jenis vaksin, bakteri yang dimasukkan dalam vaksin adalah bakteri utuh, bisa menimbulkan efek demam. Sedangkan untuk Pediacel, berisi 5 jenis vaksin, bakteri yang dimasukkan dalam vaksin adalah sebagian dari bakteri, bukan bakteri utuh, dan tidak menimbulkan demam. Efek antibodi yang ditimbulkan dengan menggunakan bakteri utuh dan bakteri sebagian sebenarnya sama, tetapi penggunaan bakteri secara utuh memang dapat menimbulkan demam
  6. Untuk vaksin BCG, sebaiknya dilakukan di lengan bukan di paha. Hal ini untuk mempermudah pengecekan jika ada efek dari vaksinasi, dan juga lebih mudah diperlihatkan jika ada screening untuk melihat bekas vaksin BCG. Saat vaksin Reika, saya kurang baca sih, jadinya saya pilih di paha, hanya untuk alasan estetika, hadeeehh..
  7. Kalau ada yang bilang, bahwa kalau anak demam berarti vaksinnya bereaksi dan kalau anak tidak demam berarti vaksin tidak bereaksi, itu hanya mitos
Vaksinasi memang tidak menjamin anak kita tidak bakal sakit, tetapi menurut saya vaksinasi adalah investasi kesehatan yang bisa kita berikan untuk anak kita, sedia payung sebelum hujan.

Selama kita masih bisa memberikan yang terbaik untuk anak kita, kenapa tidak? ;-)

Rabu, 18 Mei 2016

Imunisasi

Akhirnya setelah sekian lama, saya update blog lagi, kangen juga ternyata, hehe..
Tapi saya langsung loncat ke kejadian deket-deket ini ya. Untuk cerita bagaimana proses saya hamil sampai melahirkan, nanti akan saya ceritakan di kesempatan terpisah.

Kali ini, saya ingin bercerita tentang imunisasi atau bisa disebut juga dengan vaksinasi.
Sebenarnya saya tidak terlalu ngeh dengan macam-macam jenis vaksin. Saya hanya sebaik mungkin mengikuti jadwal imunisasi yang ada di buku perkembangan Reika.
Oya, Reika itu nama anak saya ;-)
Jadwal Imunisasi dr IDAI

Vaksin yang kali ini saya cari adalah vaksin DTP impor dengan merk Pediacel. Kelebihan vaksin ini adalah kandungan 5 virus di dalamnya, dan kemungkinan demamnya hanya 5%. Sebenarnya ada vaksin DTP produksi Biofarma, merknya Pentabio, tetapi kandungannya hanya 3 virus dan >50% kemungkinan menyebabkan demam. Tetapi, entah mengapa kok belakangan ini susah cari beberapa jenis vaksin impor, termasuk Pediacel ini. Stok di beberapa rumah sakit yang saya hubungi melalui telepon, kosong. Di Jakarta saja kosong, apalagi di daerah. Sampai akhirnya, dapat referensi teman untuk mencari vaksin di Vaxi.

Vaxi ini adalah layanan imunisasi di lokasi pelanggan. Kebetulan vaksin yang dicari ada di sana, meskipun memang harus menunggu vaksin tersebut datang stoknya, sekitar 2 minggu kemudian yang makin menyebakan terlambatnya Reika untuk dapat vaksin DTP (1,5 bulan terlambat), ya sudahlah gpp, daripada tidak sama sekali. Jadwal selanjutnya, bisa disesuaikan kembali. Saya memang agak keukeuh untuk dapat Pediacel ini, karena imunisasi DTP ini nantinya akan diberikan sebanyak 4x selama Reika bayi, dan sebaiknya merk yang digunakan sama supaya kekuatan imunnya maksimal.

Sayangnya, Serpong belum masuk cakupan wilayah layanan Vaxi, jadilah kami terpaksa numpang imunisasi di lobby kantor tercinta. kami memilih jadwal di weekend, sehingga bisa diantar jemput oleh papa Reika, dan alhamdulillah ada jadwal dokter yang masih available.

Sebelum vaksin dimulai, dokter Sandi menjelaskan dulu secara detail ttg kandungan vaksin dan juga efek sampingnya. Dan juga timbang berat badan Reika.
Suntik vaksinpun berjalan lancar. Reika tidak menangis, malah kasih senyum manis ke pak dokter. 15 menit dokter menunggu. Setelah yakin tidak ada efek samping yg berbahaya, barulah dokter pamit pulang.

Di luar penjadwalan yang agak riweuh, ternyata pengalaman pertama vaksin tidak di rumah sakit, cukup menyenangkan, bisa diulang.

Ini bukan posting endorse, hanya sharing pengalaman untuk menambah referensi teman-teman sekalian. ;-)

Profile Vaxi bisa dilihat di link di bawah ini:
Selamat mencoba ;-)

Selasa, 29 Desember 2015

Seminar Peran Ayah dalam Pengasuhan

21 November 2015 yang lalu, saya dan mas suami mengikuti seminar parenting yang diadakan oleh @kampungkeluarga. Seminar parenting ini bertempat di AXA Tower dan dimulai pada pukul 8 pagi. Lumayanlah, berangkat pagi-pagi dari BSD, hehe..

Pada seminar kali ini, ada 2 pembicara. Yang pertama adalah seorang penulis, yang buku “Sabtu Bersama Bapak”nya berhasil membuat saya dan mas suami mbrebes mili saat membacanya, Adhitya Mulya. Dan satunya lagi adalah ahli parenting, yang saya salut banget, meskipun sudah senior, tetapi tetap bersemangat dan seolah-olah energinya tidak pernah habis, Ibu Elly Risman. Dan ini adalah ke-empat kalinya saya mengikuti kelas beliau.

Acara dibuka dengan sesi kang Adhit. Beliau menceritakan secara singkat mengenai sinopsis bukunya dan menjelaskan mengenai poin apa saja yang terkait dengan parenting di buku tersebut.

Cerita Sabtu Bersama Bapak ini adalah cerita fiksi, yang menceritakan tentang seorang Bapak yang sakit parah dan hanya punya waktu 1 tahun lagi untuk hidup. Karena dia sadar, dia tidak bisa mendampingi kedua anak lelakinya tumbuh besar dan dewasa, maka dia berusaha untuk memberikan pengganti kehadirannya dengan merekam diri dalam bentuk video. Video ini akan diputar setiap hari Sabtu, berbeda kaset untuk masing-masing anak. Cerita berkembang ke kehidupan dewasa masing-masing anak. Sang kakak, Satya yang merasa kesusahan dekat dengan istri dan anaknya. Si adik,Cakra yang merasa kesusahan mendapatkan jodoh. Dan juga ibu Euis, yang memilih untuk tidak menikah dan ketakutan jika suatu hari harus “pergi” meninggalkan anak-anaknya.

Saya pribadi, suka membaca buku ini, apalagi saat itu Bapak saya baru saja meninggal, jadi rasanya ya kena banget. Apalagi suami saya, yang ayahnya meninggal ketika dia masih 4 SD, makin kena banget. Kalau mau cerita lengkapnya, beli aja bukunya, ga bakalan nyesel deh.. ;-) *bantuin promo, hehe..

Sedangkan untuk nilai parenting apa saja yang bisa didapat dari bukunya, kang Adhit merangkum beberapa hal, yang bisa dilihat di bawah ini..
Setelah sesi kang Adhit selesai, maka dilanjutkan dengan sesi Bu Elly Risman. Secara garis besar, Bu Elly menjelaskan mengenai arti pentingnya kehadiran seorang ayah dalam kehidupan anak. Banyak sekali hal yang “tidak benar” yang terjadi pada seorang anak, mulai dari kecil sampai dewasa, yang ternyata setelah ditelusuri, penyebabnya adalah ketidakhadiran seorang ayah, atau ayah ada tapi tiada, fatherless.

Materi yang dibawakan oleh bu Elly Risman dapat dilihat di bawah ini.
Setelah bu Elly selesai menyampaikan materinya, mas suami sempat sharing dan bertanya kepada bu Elly. Dan saya bangga sama mas suami, karena bisa menceritakan hal yang pribadi di depan banyak orang, yang saya tau itu tidak mudah bagi mas suami. Awalnya saya yang akan sharing dan bertanya, tapi mas suami meyakinkan saya “ini tentang kehidupanku, aku aja yang cerita. Aku yakin bisa”

Sharingnya adalah seperti ini,
“Kakek saya adalah seorang polisi, beliau mendidik Abah saya yang merupakan anak tunggal, dengan cukup keras. Kakek meninggal ketika abah kelas 5 SD. Setelah itu, Nini memutuskan untuk tidak menikah lagi sampai akhir hayatnya, sehingga role model yang Abah punya hanyalah Kakek. Abah mendidik saya juga dengan cukup keras, disiplin tingkat tinggi. Mungkin ini merupakan kombinasi darah Batak dan role model dari Kakek yang akhirnya diterapkan di keluarga Abah. Abah, meninggal ketika saya kelas 4 SD. Berbeda dengan Nini, Mama saya memutuskan untuk menikah lagi dengan Papa. Papa memiliki karakter yang sangat jauh berbeda dengan Abah. Papa sangat sabar dan berhati lembut. Dan ternyata, ketika saya tumbuh dewasa, karakter saya lebih mendekati Papa daripada Abah. Begitupun saat berkeluarga, role model yang saya dapatkan dari Papa lah yang saya terapkan di keluarga saya.
Yang ingin saya tanyakan, jika sesuatu terjadi pada saya sehingga saya harus “meninggalkan” anak istri saya, apakah sebaiknya yang harus dilakukan oleh istri saya, mengasuh anak saya sebagai single parent atau mencari suami baru yang dapat dijadikan role model untuk anak-anak saya nantinya?”

Bu Elly tidak menjawab pertanyaan mas suami dengan to the point. Beliau hanya menjelaskan bahwa, kita tidak memiliki diri kita sendiri, mumpung kita masih bisa, maka kita harus memberikan bekal terbaik untuk anak-anak kita, terutama bekal ilmu agama. Selengkapnya, jawaban bu Elly bisa dilihat di video di bawah ini.

Di awal acara, panitia menjelaskan bahwa ada lomba selfie yang dapat diikuti. Karena saya duduk di deretan paling depan dan tidak sempat selfie sebelum acara dimulai, maka foto inilah yang saya posting.
Dan alhamdulillah, dapat juara 2, hehe.. Setelah hadiah diserahkan, maka saya berfoto bersama dengan pembicara, moderator dan panitia.
Lumayan hadiahnya, terutama voucher untuk membeli baju anak, hihi, alhamdulillah..
Dan setelah acara selesai, kami yang memang sengaja membawa buku Sabtu Bersama Bapak, meminta ttd kang Adhit di buku tersebut. Sempat ada insiden sih, pulpen yg kami pinjem kok agak tersendat, jadilah bukunya kaya dicoret-coret gitu, haha.. Tapi kami coba pinjem pulpen lagi, dan berhasil meminta ulang ttd. Inilah kalau kurang prepare, harusnya selain buku, kami juga bawa pulpen dari rumah. Dan selain ttd, lumayan dapat bonus selfie, hehe..
Dan beberapa hari kemudian, foto yg saya ikutkan di lomba selfie, di-like oleh kan Adhit beserta istri, teh Ninit, senangnya, hehe..
Dan apa yang kami dapatkan dari seminar tersebut?
1. Bahwa kehadiran ayah adalah suatu keharusan. Lebih baik jika ayah hadir secara fisik, bukan hanya rekaman video seperti ayah dalam buku Sabtu Bersama Bapak. Tetapi kalau hal tersebut adalah hal terbaik yang dapat dilakukan, lakukan saja, mumpung masih bisa
2. Ayah tidak hanya hadir, tetapi juga terlibat aktif dalam pengasuhan
3. Ekstrimnya, kalau suami kerja jauh dari anak istri, maka pilihannya adalah suami cari pekerjaan lain, atau anak istri pindah untuk hidup bersama suami. Intinya, ayah ibu dan anak harus hidup bersama
4. Mumpung masih bisa, kita, ayah dan ibu, harus membekali anak kita dengan ilmu agama, dan ilmu kehidupan lain yang dapat membuat anak kita mandiri. Sehingga kalau suatu saat tiba-tiba kita “meninggalkan” mereka, mereka sudah siap
5. Anak bukanlah milik kita, mereka adalah titipan Allah, kita adalah Baby Sitter nya Allah. Untuk itu kita harus menjaga dan merawat amanah dari Allah dengan sebaik-baiknya

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita, aamiin..

Kamis, 26 November 2015

Peter Pan Syndrome dan Cinderella Complex

Setahun belakangan ini, saya dan mas suami tertarik untuk mengikuti seminar parenting. Karena kami sadar bahwa kami tidak pernah mendapatkan ilmu untuk menjadi orang tua, dan mumpung kami belum punya anak, jadi kami bisa mempersiapkan diri kami sebaik-baiknya.

Ketertarikan pertama sebenarnya dari saya, karena jujur, saya punya kekhawatiran, apakah nanti saya bisa menjadi ibu dan membesarkan anak dengan baik. Saya khawatir, bukannya jadi ibu yang terbaik, saya malah hanya akan membuat anak saya tidak bahagia. Pas banget kemudian saya dapat info seminar parenting dari teman, dan kemudian saya mengajak mas suami ikut serta. Alhamdulillah mas suami tidak pernah menolak, bahkan ikutan excited. Dan setelah mengikuti beberapa kelas parenting, saya merasakan kepercayaan diri saya bertambah. Kini saya yakin, bahwa memang tidak perlu sempurna untuk menjadi orang tua, tapi ada baiknya jika kita mendidik anak dengan dasar ilmu.
Awal November ini, saya mengikuti seminar yang diadakan oleh Super Mom yang bertempat di Titan Center Bintaro. Pembawa materi adalah Ibu Elly Risman dengan tema Peter Pan Syndrome dan Cinderella Complex. Tema ini menarik untuk kami, karena kami mendapatkan anak setelah menikah cukup lama dan perjuangan yang tidak sedikit. Jadi kami khawatir, nantinya kami akan terlalu memanjakan anak yang akhirnya menyebabkan anak mengalami syndrome tersebut. Dengan mengikuti seminar ini, kami berharap dapat melakukan antisipasi, supaya hal tersebut tidak terjadi di masa yang akan datang.

Dan beberapa hari ini, beredar postingan viral di socmed, tidak tahu dari mana sumber awalnya, yang isinya adalah rangkuman dari materi beliau. Isinya cukup comprehensive dan mudah untuk dipahami, untuk lengkapnya bisa dilihat di bawah ini, dengan sedikit touch up dari saya.

***
PETER PAN & CINDERELLA SYNDROME

Menghindari perceraian dini karena Peter Pan Syndrome, Cinderella Complex dan Adversity Quotient ditentukan lewat pola asuh di rumah.

Apa itu Peter Pan dan Cinderella Syndrome? Semua berawal dari kasih sayang orang tua dan over proteksi yang tidak pada tempatnya sejak dini, sehingga membunuh kemandirian anak dan membuat rendahnya Adversity Quotient (kemampuan untuk survive dalam menghadapi masalah kehidupan).
Yang pada gilirannya akan mencetak laki-laki dengan Peter Pan Syndrome, yaitu laki-laki yang tidak pernah dewasa. Atau anak perempuan dengan Cinderella Complex yg mengharap ‘Prince Charming’ datang utk menyelamatkan-nya, karena tak mampu menghadapi kesulitan hidup akibat terlalu dilindungi.
  1. Pernahkah anda menyuapkan makanan pada anak anda yg sudah SD karena kuatir dia sakit jika tidak makan?
  2. Pernahkah anda melihat anak SD berjalan melenggang sementara Ibu/pengasuhnya membawakan tas mereka?
  3. Atau jika ditelepon anak dari sekolah karena PRnya ketinggalan, apakah anda akan ter-gopoh2 ke sekolah utk mengantarkan-nya, alih-alih menyuruhnya pulang atau membiarkannya disetrap karena kelalaian?
  4. Apakah anda membuka satu per satu buku anak utk mencari PRnya, kemudian mengoreksi PR dengan tangan anda bahkan menolong membuatkan supaya nilainya bagus?
Jika ke-empat hal di atas terjadi pada anda, maka waspadalah anda sedang menjerumuskan karakter diri anak anda. Kasih sayang yang anda berikan akan merusak kemampuannya utk survive di masa depan.

Ciri-ciri anak dengan Peter Pan Syndrome adalah:
  1.  Mereka terbiasa hidup nyaman tanpa beban tanggung jawab
  2.  Tidak suka bekerja keras
  3.  Kegiatannya banyak main-main
  4.  Tidak pernah punya tanggung jawab
  5.  Tidak bisa mandiri/dewasa
  6.  Tidak berani mengambil keputusan dan menanggung resiko
  7.  Kurang percaya diri
  8.  Enggan hidup sendiri karena mengalami ketergantungan pada orang lain
Pada anak-anak dengan pola asuh yang potensial menimbulkan Peter Pan Syndrome biasanya cenderung :
  1. Suka menentang
  2. Pemberontak
  3. Susah punya komitmen
  4. Pemarah (marah jika kemauannya tidak terpenuhi)
  5. Tidak bisa menerima kritikan
  6. Mudah sakit hati
  7. Terlalu cinta pada diri sendiri
  8. Senang memanipulasi
  9. Menolak hubungan dengan lawan jenis
Akibatnya mereka punya masalah tidah tahan terhadap invasi kekuasaan dari lingkungan, mereka tidak mampu berpikir tentang dirinya, apalagi menangani problem yg menimpa. Karena sejak kecil semua masalahnya diatasi ibu, ayah atau pengasuhnya.

Cinderella Complex biasanya menimpa anak wanita yg selalu dilindungi atau yg hidupnya dalam keadaan tertekan. Ia mengharap ada figur yg dapat menyelamatkannya di setiap masalah yg dihadapi. Tanpa berusaha utk berjuang dgn mengerahkan segenap kemampuan.

Dengan pola asuh salah, orang tua potensial membentuk karakter laki-laki dengan ciri Peter Pan akibat dimanja dan dibela setiap melakukan kesalahan, dilindungi dan dituruti keinginannya. Sementara anak perempuan dengan ciri Cinderella tidak dididik untuk menerima kenyataan hidup dan diberi banyak mimpi tentang kisah happy ending tanpa tahu bahwa happy ending adalah reward dari a long and winding journey of struggling in life.

Kedua karakter ini di masa depan akan mengkontribusi dunia dengan generasi yg memiliki AQ (Adversity Quotient) yg sangat rendah. Apabila keduanya bertemu dan menikah besar kemungkinan perceraianlah yang terjadi atau never have happy ending. Karena mereka tidak memiliki cukup AQ untuk mengupayakan kehidupan yang lebih baik. AQ adalah kecerdasan untuk bertahan dan mengatasi setiap kesulitan hidup lewat perjuangan. Dengan AQ ditentukan kadar kemampuan orang mengatasi kemelut tanpa menjadi putus asa.

Akhir-akhir ini, ESQ gencar ditingkatkan, sebagai cara melejitkan prestasi anak di masa depan lewat potensi spiritual. AQ muncul sebagai jawaban atas sedihnya hidup orang-orang yang secara karier dan materi sukses, tapi tidak dapat meraih kebahagian akibat rendahnya AQ, terutama dlm membina hubungan rumahtangga.

AQ adalah indikator untuk melihat :
  1. Kemampuan bertahan dalam setiap penderitaan dan tahu cara mengatasi situasi yg membuat penderitaan
  2. Keterampilan utk menerima & menyelesaikan setiap tantangan
  3. Ilmu tentang ketabahan manusia (Human Resillience)

Perusahaan maju mulai melihat indikator di atas sbg patokan dlm merekrut karyawan baru, selain IQ, EQ dan ESQ.

Untuk memberikan gambaran AQ ini, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga jenis :
  1. Quitter (Mudah menyerah)Para quitter adalah para pekerja yg sekadar untuk bertahan hidup. Mereka gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan saat menerima tantangan
  2. Camper (Berkemah di tengah perjalanan)Para camper lebih baik, karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yang berisiko, tetapi tetap mengambil risiko yg terukur dan aman. “Ngapain capek-capek” atau “segini juga udah cukup” adalah moto para campers. Orang-orang ini sekurang-kurangnya sudah merasakan tantangan dan selangkah lebih maju dari para quitters. Sayangnya banyak potensi diri yang tidak teraktualisasikan dan yang jelas pendakian itu sebenarnya belum selesai
  3. Climber (Pendaki yg mencapai puncak)Para climber, yakni mereka yang dengan segala keberanian menghadapi risiko akan menuntaskan pekerjaannya. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan walau tahu bahwa akan banyak rintangan dan kesulitan yg menghadang. Namun, dibalik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Dalam konteks ini, para climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata lain, AQ membedakan antara para climber, camper dan quitter. AQ ternyata bukan sekadar anugerah yg bersifat given. AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan-latihan tertentu, setiap orang bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Tetapi hasil terhebat akan diperoleh jika kita mampu menginstal AQ ini dalam diri putra-putri kita.

Untuk menghasilkan anak dengan ketangguhan seorang Climber yang memiliki AQ tinggi, kita harus memperhatikan 9 aspek perkembangan, yaitu:
  1. Fisik
  2. Kesehatan
  3. Daya tahan mental
  4. Kestabilan emosi
  5. Kemampuan social
  6. Keimanan
  7. Ibadah kepada Tuhan
  8. Keterampilan seksualitas
  9. Seksualitas yang normal
So Smart Parents, mau dibawa ke mana pola asuh yang anda terapkan di rumah sepenuhnya adalah hak anda. Tapi untuk menjadikan anak yang tangguh perlu banyak belajar, usaha dan sabar.

Sebelum bicara tentang AQ untuk anak kita, mari berkaca dan meyakini sudah sejauh mana kita sendiri mengembangkan AQ diri kita dan berusaha meningkatkannya.

Semoga bermanfaat.
Be Positive and Get Smarter everyday, Moms & Dads.

***
Sedangkan, untuk materi presentasi lengkapnya bisa dilihat di bawah ini.

Tambahan materi dari saya, dari apa yang saya dengar dari Bu Elly, sebelum kita ingin menerapkan ilmu parenting ke anak kita, lebih baik kita memperbaiki diri dulu. Kita harus sadar dengan Inner Child yang kita punya. Inner Child adalah suatu karakter atau kebiasaan yang terbentuk secara tidak kita sadari, akibat kejadian yang terus menerus kita alami saat kita kecil dulu, yang masuk ke alam bawah sadar kita.

Kalau memang Inner Child kita lebih condong ke hal yang negatif, maka hal tersebut harus kita perbaiki dulu. Jangan sampai hal negatif tersebut, nantinya secara tidak kita sadari, ternyata kita terapkan ke pola pengasuhan anak kita. Dan untuk  itu, kita perlu berkomunikasi secara terbuka dengan pasangan kita, saling memberikan masukan, menerima masukan, dan saling mendukung untuk memperbaiki diri. Kalau dengan pasangan, ternyata kesulitan, kita bisa datang ke psikolog untuk meminta bantuan. Intinya, kita harus mau berdamai dengan masa lalu, apapun itu caranya, demi masa depan anak-anak kita..

Semoga bermanfaat.. ;-)