Rabu, 18 Mei 2016

Imunisasi

Akhirnya setelah sekian lama, saya update blog lagi, kangen juga ternyata, hehe..
Tapi saya langsung loncat ke kejadian deket-deket ini ya. Untuk cerita bagaimana proses saya hamil sampai melahirkan, nanti akan saya ceritakan di kesempatan terpisah.

Kali ini, saya ingin bercerita tentang imunisasi atau bisa disebut juga dengan vaksinasi.
Sebenarnya saya tidak terlalu ngeh dengan macam-macam jenis vaksin. Saya hanya sebaik mungkin mengikuti jadwal imunisasi yang ada di buku perkembangan Reika.
Oya, Reika itu nama anak saya ;-)
Jadwal Imunisasi dr IDAI

Vaksin yang kali ini saya cari adalah vaksin DTP impor dengan merk Pediacel. Kelebihan vaksin ini adalah kandungan 5 virus di dalamnya, dan kemungkinan demamnya hanya 5%. Sebenarnya ada vaksin DTP produksi Biofarma, merknya Pentabio, tetapi kandungannya hanya 3 virus dan >50% kemungkinan menyebabkan demam. Tetapi, entah mengapa kok belakangan ini susah cari beberapa jenis vaksin impor, termasuk Pediacel ini. Stok di beberapa rumah sakit yang saya hubungi melalui telepon, kosong. Di Jakarta saja kosong, apalagi di daerah. Sampai akhirnya, dapat referensi teman untuk mencari vaksin di Vaxi.

Vaxi ini adalah layanan imunisasi di lokasi pelanggan. Kebetulan vaksin yang dicari ada di sana, meskipun memang harus menunggu vaksin tersebut datang stoknya, sekitar 2 minggu kemudian yang makin menyebakan terlambatnya Reika untuk dapat vaksin DTP (1,5 bulan terlambat), ya sudahlah gpp, daripada tidak sama sekali. Jadwal selanjutnya, bisa disesuaikan kembali. Saya memang agak keukeuh untuk dapat Pediacel ini, karena imunisasi DTP ini nantinya akan diberikan sebanyak 4x selama Reika bayi, dan sebaiknya merk yang digunakan sama supaya kekuatan imunnya maksimal.

Sayangnya, Serpong belum masuk cakupan wilayah layanan Vaxi, jadilah kami terpaksa numpang imunisasi di lobby kantor tercinta. kami memilih jadwal di weekend, sehingga bisa diantar jemput oleh papa Reika, dan alhamdulillah ada jadwal dokter yang masih available.

Sebelum vaksin dimulai, dokter Sandi menjelaskan dulu secara detail ttg kandungan vaksin dan juga efek sampingnya. Dan juga timbang berat badan Reika.
Suntik vaksinpun berjalan lancar. Reika tidak menangis, malah kasih senyum manis ke pak dokter. 15 menit dokter menunggu. Setelah yakin tidak ada efek samping yg berbahaya, barulah dokter pamit pulang.

Di luar penjadwalan yang agak riweuh, ternyata pengalaman pertama vaksin tidak di rumah sakit, cukup menyenangkan, bisa diulang.

Ini bukan posting endorse, hanya sharing pengalaman untuk menambah referensi teman-teman sekalian. ;-)

Profile Vaxi bisa dilihat di link di bawah ini:
Selamat mencoba ;-)