Kamis, 10 Desember 2015

Pejuang Keturunan (4) – Tes ini, tes itu..

Kapankah suami istri harus merasa perlu menemui dokter untuk mulai program hamil?
Ketika sudah 1 tahun hidup bersama, melakukan aktivitas seksual secara teratur, tetapi belum juga ada tanda-tanda kehamilan.

Dan kami sudah melewati 1 tahun itu, bahkan sangat lebih.. :-) Terlalu santai sih, haha..

Sebelum terapi, tiap pasangan yang akan memulai program hamil pasti akan disarankan untuk melakukan tes terlebih dahulu. Ada yang disarankan istri saja, ada yg disarankan suami istri. Ada yang disarankan harus istrinya dulu yang tes, setelah tahu hasilnya baru tes si suami, ada yang menyarankan sebaliknya, tapi ada juga dokter yang mewajibkan suami istri harus melakukan tes pada saat yang bersamaan. Intinya, tes ini tidak bisa dihindari jika ingin tahu apa permasalahannya..

Tes apa sajakah yang pernah saya lakukan?
1.    Tes fisik
Selain cek BMI (Body Mass Index) apakah masih di skala normal atau tidak, akan dicek juga kondisi sel telur kita. Cek nya dengan USG (Ultrasonografi). Karena ukuran sel telur kita kecil, maka USG yang digunakan adalah USG Transvaginal. USG dilakukan dengan cara memasukkan alat USG sampai pintu rahim melalui vag*na.
Sakit nggak?
Hhhhmmmm, tiap orang punya ketahanan masing-masing terhadap rasa sakit sih ya. Ada teman yang bilang USG Transvaginal ini sakit, tapi saya tidak merasakan sakit, cuman aneh aja rasanya. Apalagi kalau dokter meriksa nya teliti banget. Belok kanan, kiri, atas, bawah, hhhhmmmm, makin lama rasanya makin aneh, haha..
Apalagi kalau diperiksanya saat hari mens ke-2, kebayang kan, darah mens keluar tapi vag*na kita dimasuki dengan barang asing, rasanya linuu..
Tapi sekali lagi, bagi saya, rasanya tidak sakit, cuman aneh aja..
Proses USG Transvaginal
Alat USG Transvaginal
2.    Tes darah
Pemeriksaan yang dilakukan adalan tes darah rutin. Beberapa hal yang dicek adalah kadar glukosa dan insulin.
3.    Tes hormon
Tes hormon dilakukan untuk melihat kadar hormon testosterone, progesteron, prolactin, dan estrogen dalam darah. Caranya adalah dengan mengambil darah kita. Pengambilannya unik, karena darah diambil sebanyak 3 kali dengan jarak waktu masing-masing pengambilan adalah selama 15 menit. Saya yang selalu mengalami kesulitan kalau harus diambil darahnya, agak tidak nyaman dengan prosesnya. Karena saat itu darah sulit sekali diambil dari lipatan lengan, akhirnya darah diambil dari punggung tangan.
Bekas ambil sample darah di tangan
4.    Tes TORCH
Tes TORCH ini adalah tes untuk cek beberapa jenis virus, yaitu Toxoplasma Gondii (Toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), dan Herpes Simplex Virus (HSV). Cara tes nya adalah juga dengan mengambil sample darah kita, seingat saya 1 tabung saja. Kadang kepanikan melanda kalau kita baca sendiri hasil tes nya. Di masing-masing jenis virus akan keluar 2 kriteria, IgG dan IgM. Saat saya tes dan membaca hasil terlebih dahulu (karena belum sempat datang ke dokter), saya panik karena karena IgG Positif/Reaktif dan IgM Negatif. Tetapi ternyata setelah konsultasi dengan dokter, ternyata IgG Positif itu artinya adalah mungkin di masa lalu badan saya pernah terpapar virus tersebut, dan sekarang malah sudah ada antibody untuk virus tersebut di badan saya
5.    HSG
Tes HSG ini dilakukan untuk mengetahui posisi rahim dan apakah ada penyumbatan di saluran rahim. Caranya adalah dengan memasukkan kateter melalui vag*na, dan kemudian dimasukkan cairan kontras melalui kateter tersebut dan kemudian rontgen dengan X-Ray. Rasanya aneh, ketika vag*na ditahan supaya terbuka dengan alat cocor bebek (seperti saat tes papsmear) dan juga saat kateter dimasukkan. Ketika giliran cairan kontrasnya dimasukkan, rasanya berubah menjadi linu. Setelah tes HSG selesai dilakukan, badan saya agak lemas. Saya yakin bukan karena capek mengikuti proses, karena prosesnya sederhana saja, tetapi karena tegang dan kepikiran tentang hasilnya, hehe..
Proses HSG
6.    Tes SIS
Tes SIS (Saline Infusion Sonohysterography) adalah pemeriksaan untuk mendeteksi adanya kelainan pada rongga rahim dan saluran telur. Saat itu diputuskan untuk melakukan tes ini, karena saat inseminasi pertama, baru ketahuan kalau saluran telur saya super sempit dan ada belokan tajam. Cara melakukan tes ini, mirip HSG tapi tanpa rontgen, hanya menggunakan USG. Rasanya, sakiiiiitttt banget menurut saya. Sepanjang tes, kaki saya dingin, saya remas tangan suami, sampai air mata menetes dari sudut mata. Setelah selesai, badan agak lemas, kali ini karena memang rasa sakitnya menguras energi saya.
Sebelum melakukan tes, saya sempat browsing, bahwa ada yg melakukan tes ini dengan dibius dan ada pula yang sampai rawat inap, mungkin menyesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Tetapi yang saya alami, saya tidak dibius dan tidak rawat inap. Saya hanya istirahat 30 menitan di ruang tindakan sampai akhirnya dipersilahkan pulang ke rumah.
7.    Tes ACA
Tes ACA (Anticardiolipin Antibody) adalah tes untuk mengetahui tingkat kekentalan darah. Di awal program, saya tidak pernah mengikuti tes ini karena memang biayanya cukup mahal. Tapi saya sempat curiga bahwa saya punya problem kekentalan darah, karena beberapa kali saat darah saya diambil, kok cepat sekali membeku di dalam tabung. Akhirnya proses pengambilan darah yang memang sudah sulit dan penuh perjuangan, harus diulang lagi, hiks..
Saat itu akhirnya saya melakukan tes, setelah keguguran kehamilan pertama saya, untuk mencari penyebab keguguran. Hasil tes, darah saya normal, tidak ada indikasi kekentalan darah. Cerita mengenai kehamilan pertama dan keguguran tersebut, akan saya ceritakan secara detail di kisah terpisah.
Pengambilan sample darah melalui punggung tangan

Dari semua tes, didapatkan hasil sebagai berikut:
1.  BMI saya 24 koma sekian, sudah mulai mendekati overweight, hehe.. Saya sadar akan hal itu, kenaikan berat badan adalah akibat pengobatan TBC Kelenjar, yang salah satu indikator kesembuhannya adalah kenaikan berat badan. Dokter menyarankan untuk pola hidup sehat, baik dengan makanan yang sehat dan juga olahraga teratur seperti misalnya jogging dan aerobic
Tabel BMI
2.  Saat USG Transvaginal di H+2 menstruasi, sel telur saya kecil-kecil dan berbentuk seperti anggur, hal tersebut adalah indikasi PCOS (Polycystic Ovary Syndrome). Ooo, saya baru mengerti, mungkin karena PCOS inilah siklus menstruasi saya tidak normal. Saya mendata siklus saya sejak 2007, dan dari data tersebut siklus tercepat saya adalah 32 hari dan terlama sampai 120 hari, mungkin karena memang sel telur yang terlambat matang.
3.  Kadar insulin dan glukosa masih normal, tetapi kurang seimbang. Info dokter, seperti terjadi diabetes pada rahim. Dan hal inilah yang menyebabkan PCOS terjadi. Oleh karena itu saya diberi obat diabetes. Awalnya Glucophage, cuman saya terlalu pusing dan mual. Akhirnya diganti dengan Inlacin, saya lebih nyaman dengan merk obat tersebut.
4.  Semua hormon saya ada di rentang normal, hanya memang testosteron kok agak tinggi, haha.. Pantesaaannn, saya kaya cowok ya. Bulu lumayan banyak, ga kemayu, kurang sensitif perasaannya, terlalu pakai logika, haha..
Dokter saya bilang, ada obat untuk terapi testosteron, tapi obatnya bisa didapat di Singapura. Kontan saya menjawab,
“Lha, kalau saya minum obat itu, ntar saya jadi cewek banget dong dok”
Dan dokter saya menjawab,
“ya gapapa buk, kan ibu memang cewek”
Hahaha..

Tes apa sajakah yang suami lakukan?
1.    Tes darah
Normal
2.    Tes hormon
Normal, tapi progesteron agak tinggi. Pantesan hati suami saya lembut banget, lebih lembut daripada saya, haha.. Kami memang saling menyeimbangkan satu sama lain.
3.    Tes sperma
Suami saya tes sperma sampai 3 kali, untuk memastikan baik-baik saja. Semua tes hasilnya normal. Hanya saat tes pertama, kecepatannya ada di rentang normal agak bawah, sehingga diberi suplemen untuk memperbaiki kecepatan gerak sperma. Setelah itu, hasil tes kedua dan ketiga, semua normal.

Karena semua normal, suami saya terbebas dari terapi obat-obatan atau tindakan medis lainnya. Tapiiii, suami saya tidak terbebas dari luapan emosi saya, entah itu karena pengaruh hormon ataupun luapan emosi yang memang saya lakukan dari lubuk hati yang paling dalam, haha..

Setelah semua tes dilakukan, maka dimulailah program hamil, yang cukup menyita emosi, waktu, energi dan biaya..

Namanya juga usaha.. ;-)

(bersambung..)

5 komentar:

  1. Nice share mba Sisil, mba teman ngebandnya mba Riris ya? Salam kenal mba Sisil. Informasinya bermanfaat sekali bagi saya yang awam masalah reproduksi (padahal ngajar di prodi biologi ;-)). Sehat terus ya sampai lahiran, udah ikutan senam hamil? (biar kekinian hahahaha...kidding). Enak lho, bisa rilex krn ada campuran yoganya gitu. Ditunggu sambungan ceritanya ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bener mbak, saya temen ngeband Riris, sejak smp, hehe..
      Salam kenal juga ya mbak.
      Aamin ya robbal alamin. Sudah ikut senam hamil juga mbak, kebetulan besok kelas saya yang kedua kalinya. Emang enak, badan jadi ga terlalu pegel2 yaa..
      Ceritanya sudah ada sambungannya mbak, hehe..
      Makasih udah baca dan juga makasih buat doanya ya mbak..

      Hapus
  2. Nice share mba Sisil, mba teman ngebandnya mba Riris ya? Salam kenal mba Sisil. Informasinya bermanfaat sekali bagi saya yang awam masalah reproduksi (padahal ngajar di prodi biologi ;-)). Sehat terus ya sampai lahiran, udah ikutan senam hamil? (biar kekinian hahahaha...kidding). Enak lho, bisa rilex krn ada campuran yoganya gitu. Ditunggu sambungan ceritanya ya...

    BalasHapus
  3. Promil di RS mana ka?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat itu saya dengan dr. Prima Progestian (http://drprima.com) .
      Beliau praktek di rs Brawijaya, Muhammadiyah Taman Puring dan Permata Bintaro.
      Di atas, saya kasih link web dr Prima ya, mungkin bisa dicek update info terbaru di sana.

      Gutlak.. ;-)

      Hapus