Senin, 14 Desember 2015

Pejuang Keturunan (6) – Inseminasi buatan

Ternyata kesabaran saya memang kurang banyak stoknya, setelah melalui program induksi dengan berbagai suka dukanya, akhirnya kami (lebih tepatnya atas paksaan saya), memutuskan untuk melakukan inseminasi. Sebenarnya dokter menyarankan untuk bersabar, menurut dia, sedikit lagi pasti berhasil. Tetapi saya, yang harus minum obat hormon terus-terusan, merasakan berkali-kali usg transvaginal, tekanan psikologis saat ML, kekecewaan saat melihat 1 garis di test pack, rasanya ingin naik ke level ke usaha yang lebih tinggi lagi.
Akhirnya kami melakukan proses inseminasi tersebut di bulan Oktober 2013. Prosesnya sebagai berikut:
1.   Hari ke-2 menstruasi, saya akan kontrol ke dokter untuk dilihat kondisi sel telur

2.  Lanjut minum 2 obat mulai H ke-2 menstruasi. Obat pertama diminum selama 5 hari, obat kedua diminum selama 10 hari.

3.  Hari ke-7 sampai dengan hari ke-9 (selama 3 hari), saya akan disuntik hormon di bagian perut untuk memperbesar sel telur. Jumlah suntikan ini bergantung dengan kondisi sel telur kita. Karena dengan obat saja biasanya sel telur saya sudah ada beberapa yang memenuhi kriteria, meskipun lama matangnya, maka saya hanya memerlukan 3 suntikan. Info dokter, kalau jumlah dosis suntikan hormon ini berlebihan, bisa menyebabkan panas tinggi di tubuh kita, perut membesar, bahkan bisa sampai masuk UGD. Oleh karena itu, dosisnya harus benar-benar pas. Suntikan tersebut sebenarnya bisa kita lakukan secara mandiri atau dibantu suami, tapi saya takut, hehe.. Jadilah, setiap pagi sebelum masuk kantor, saya mampir ke rumah sakit untuk disuntik hormon oleh perawat.

4.  Hari ke-12, saya akan kontrol lagi ke dokter. Jika kondisi sel telur sudah bagus, yaitu minimal diameter 19-20 mm, saya akan disuntik dengan obat pemecah sel telur, disuntiknya di perut. Tetapi jika sel telur belum bagus juga, maka saya akan kontrol kembali di hari ke-14, atau hari ke-17, sampai kondisi sel telur tersebut bagus. Saat itu, karena ada tambahan suntik hormon, maka di hari ke-14 sel telur yang ideal sudah ada 3 buah dengan ukuran variatif antara 19-22 mm.

5.  Setelah suntik obat pemecah telur, dalam waktu 36 jam kemudian, inseminasi harus dilakukan. Kalau sedang musim liburan, sebaiknya program inseminasi diundur karena dokter banyak yang liburan, hehe.. Atau kalau waktu inseminasi jatuh di hari Sabtu atau Minggu, kita harus melakukan koordinasi lebih intensif dengan dokter androlog supaya pas saatnya datang, pas dokter androlognya sedang praktek

6.  Pagi hari saat inseminasi harus dilakukan, kami datang ke klinik di Prapanca, untuk cuci sperma. Proses cuci sperma ini dilakukan di lokasi terpisah dengan RS karena memang RS tempat dokter saya praktek, belum punya teknologinya. Saya sempat ragu apakah sperma akan bertahan berada di luar ruangan, tetapi kami diyakinkan bahwa sperma tersebut akan bertahan sampai 4 jam di luar ruangan.
7.  Mas suami masuk ke dalam ruangan dengan dibekali tabung kecil. Di dalam ruangan sudah disediakan “materi” untuk memancing ejakulasi. Dengan “swalayan”, suami berhasil mengeluarkan sperma. Secara volume tampaknya tidak banyak, jangan bayangkan seperti tes urine yaaa, hehe.. Kemudian sperma ini kami berikan kepada dokter androlog. Sperma akan dibersihkan dari semen, bakteri dan cairan lain yang tidak diperlukan sehingga hanya murni sperma yang akan masuk ke dalam Rahim. Kami tidak request untuk memisahkan sperma jenis kelamin tertentu, karena ini anak pertama dan makin banyak sperma yang masuk, akan makin banyak kesempatan berhasil

8. Dokter androlog selesai membersihkan sperma dan memanggil kami. Saya diundang untuk melihat sperma dengan mikroskop. Masyaallah lucunyaaaa.. Para sperma bergerak dengan cepat kesana kemari, rame banget, seperti di pasar. Alhamdulillah, semua proses yang kami alami semakin meyakinkan kami atas kebesaran Allah. Sperma yang sudah siap, kami bawa ke RS.
9. Sampai di RS, sperma kami serahkan kepada perawat untuk disimpan di inkubator. Kami antri menunggu panggilan untuk tindakan, sambil cek berat dan tekanan darah seperti jika akan kontrol kandungan
10.  Kami dipanggil, dan proses inseminasi dimulai. Proses awalnya, saya duduk di kursi yang biasanya digunakan untuk melahirkan normal (kursi yang ada penyangga betisnya), dan kemudian mulut vag*na ditahan supaya terus terbuka dengan “cocor bebek”
Kateter dimasukkan. Nah, proses ini yang agak susah karena ternyata saluran saya sempit dan ada belokan tajam. Sehingga supaya kateter bisa masuk, maka saluran saya harus ditarik. Proses ini agak lama dan terasa sakit, sampai sedikit berdarah. Ketika kateter berhasil masuk, maka sperma disemprotkan ke dalam kateter dengan suntikan. Setelah itu dokter akan membersihkan daerah vag*na saya.

11.  Setelah kateter dan cocor bebek dilepas, rasanya legaaaa sekali. Hanya memang sakit masih terasa. Saya istirahat di ruang tindakan selama kurang lebih 30 menit sampai akhirnya diperbolehkan untuk pulang.

12. Sebenarnya dokter menyarankan supaya keesokan harinya dilakukan inseminasi ulang untuk memperbesar kesempatan. Tetapi saya menolak karena proses yang baru saya lakukan rasanya cukup sakit dan traumatik. Untuk itu dokter menyarankan kami ML sampai H+4 setelah inseminasi dan setelah itu istirahat ML sampai dengan H+14

13.  Selama 10 hari, saya menggunakan obat penguat yang dimasukkan melalui anus

Setelah inseminasi pertama ini, saya tidak mempunyai waktu istirahat karena sedang ada project di kantor. Di beberapa jenis pekerjaan yang mengharuskan saya memberikan training dengan berdiri, perut bagian bawah saya terasa sakiiitt sekali, seolah mau jatuh, mungkin karena sakit saat proses inseminasi yang saya rasakan sebelumnya masih ada.

Kami juga tidak ML seperti saran dokter, karena saluran rahim masih trauma dan saya khawatir proses inseminasi yang sebelumnya dilakukan malah terganggu. Akhirnya kami hanya menunggu sampai hari ke-14 setelah inseminasi.

Hari itu datang, dan saya cek hasilnya dengan test pack.
1 garis, dan sayapun menangis..

(bersambung..)

12 komentar:

  1. Mbak sisil, saluran aq juga yang kiri buntu yang kanan sempit. Dokter nyaranin aku untuk bayi tabung karena kemungkinan untuk normal kecil. Tapi aku masih takut buat bayi tabung, gak sabar pengen liat ending cerita mbak sisil. Biar q juga bisa sekuat mbak sisil buat jalanin semua ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Putri, udah cari 2nd oponion kah? Kalau hasilnya sama, jalanin mbak.. Cuman perlu diingat juga, bayi tabung juga tidak menjamin 100% keberhasilan. Tapi yg namanya usaha, ga ada salahnya. Yg penting suami istri saling mendukung dan menguatkan mbak, jd semua krasa lebih enteng.. Gutlak ikhtiar nya ya mbaakk..

      Hapus
  2. Baca cerita perjuangan mba Sisil dan Mas Indra mendapatkan keturunan jadi inget perjuangan kakak Ipar saya yg udah menikah 10 tahun, sampai coba bayi tabung, gagal juga. Saat sang suami sekolah ke Ausse dan istri diajak serta, alhamdulillah berhasil hamil secara biasa. Mungkin suasana yg releks di negeri orang dan jalan-jalan terus membawa berkah. Semangat buat semua yang sedang berjuang mendapatkan buah hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya mbak, memang rejeki kadang datang di saat yg tidak kita sangka2.. Mungkin benar, suasana rileks memang berpengaruh. Terutama kalau di sana kan udaranya masih bersih, bikin makin happy dan mungkin sel2 tubuh jadi memperbaiki diri.. Tapi intinya, memang kita harus pasrah dan berprasangka baik sama rencana Allah mbak..
      Btw, kakak mbak Rani namanya Guna bukan mbak? Kalo iya, kayaknya temen sd suami saya, hehe..

      Hapus
    2. Iya, nama kakak saya Guna, tinggal di Malang sekarang, dapet jodoh orang Malang. Suami mba Sisil,kakak kelas saya di SMA 1 Banjarbaru hehe...Bapak mertua mba Sisil, guru Matematika saya di SMP hehe...liat mba Sisil pertama kali wkt ngetag foto ngebandnya dulu bareng mba Riris, teman saya kuliah S2 hehe...dunia memang sempit.

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Haha, iyaaa, betul sekali mbaakk..
      Memang dunia sempit yaaa.. ;-)

      Hapus
  3. Waahh... semoga meinspirasi banyak orang ya pengalaman mbak Sisil & mas Indra, selalu berjuang, berusaha & berdoa kepada Allah SWT, ga sabar nunggu lahiran si baby yang udah di tunggu,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak..
      Memang itu tujuan saya share mbak, karena saya ingin teman-teman yang mengalami hal yang sama, tidak merasa sendiri. Dan saya ingin juga supaya mereka jangan menyerah, karena kita tidak pernah tahu kapan Allah akan meng-ijabah doa dan usaha kita..
      Hihi, iya mbak, saya juga penasaran..

      Hapus
  4. Saat ini saya sedang proses inseminasi kedua mba..mohon doanya..saat ini bagaimana mba apakah sudah memiliki buah hati? Bila iya dg proses apakah?

    BalasHapus
  5. Mana lanjutannyaaaaa... 😢😢😢😭😭

    BalasHapus
  6. Apalah daya saya yang hanya bisa mrlakukan prngobatan biasa biasa saja mbak karena kurangnya biyaya. Tp biarpun begitu saya gak menyerah, meski kadang saya menangis ingin menyerah namun suami menyemangati, saya ingin berusaha semaksimal mungkin meski saya harus berulang kali kecewa, karena ada harapan yg suami tanamkan dalam diri saya. Makasih ceritanya mbk sisil saya jadi semangat lagi, jadi saya bisa berusaha lebih maksimal lagi meski gk bisa mrlakukan inseminasi atau bayi tabung.

    Salam kenal dari saya Gita dari pasuruan jatim. Saya udah 5thn pernikahan.

    BalasHapus